Taliwang, KOBAR
Bisnis galeri di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang akan dikembangkan tahun 2010 ini, seiring dengan munculnya berbagai produk baru dari sektor industri antara lain, tahu tempe, eceng gondok, dan rotan, dinilai ikut mengembangkan potensi koperasi dan usaha mikro kecil menengah.
Bisnis galeri di Sumbawa Barat turut diprakarsai Pemerintah Daerah (Pemda) KSB dengan membuka beberapa galeri produk industri kerajinan di KotaTaliwang, optimisme perdagangan dan industri akan tumbuh pada 2010, ditambah lagi dengan dukungan program stimulus 13 miliar rupiah yang akan digelontorkan Pemda KSB kepada ratusan koperasi berbasis rukun tetangga.
”Bisnis galeri akan berkembang di tahun 2010 ini, selain akan segera dibangunnya galeri untuk produk industri, juga dukungan penuh program stimulus semakin memudahkan perkembangan bisnis galeri nantinya,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian dan Perdagangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah – UMKM, Agus Bajuri, kepada media, Senin (8/2).
Ia menyebutkan, dalam 30 hari kedepan, bidang industri dan perdagangan akan melakukan identifikasi berbagai potensi hasil-hasil kerajinan di KSB, sedangkan dalam bulan ini sendiri, puluhan hasil kerajinan makanan telah mulai dipamerkan sejak awal Januari 2010 kemarin.
”Bahkan industri kerajinan dan makanan sudah dipamerkan sejak Januari lalu,” terangnya lagi.
Agus Bajuri mengatakan, harapan Disperindagkop dan UMKM KSB ada pada industri tahu tempe, hanya saja, pihak pengrajin masih mengandalkan bahan baku dari Pulau Lombok. Menurutnya, kendala tersebut akan sedikit berkurang jika para petani KSB mau menanam tanaman palawija paling tidak satu kali dalam satu tahun, pola tersebut akan sangat mendukung berkembangnya industri tahu tempe menuju bisnis pameran seiring dengan pertambahan lokasi pameran di beberapa kecamatan di KSB.
”Sebenarnya bisnis industri tahu tempe cukup menjanjikan namun, masih terkendala pada bahan baku yang masih di kirim dari lombok, dan solusinya, seharusnya petani bisa menanam palawija minimal sekali setahun,” ujar Agus lagi.
Dia mencontohkan, pengrajin di lingkungan Sebok Kelurahan Dalam, Kecamatan Taliwang, mampu memproduksi tahu sebanyak 10 papan dan memperoleh keuntungan puluhan ribu rupiah. Sedangkan untuk tempe dalam seharinya lima orang perajin mampu memproduksi tempe seberat satu kwintal. Industri ini lanjutnya, selain menjadi sebuah komoditi juga dipercaya menjadi jalan keluar masalah ketenagakerjaan, sebab dalam satu harinya pengrajin mampu meraih keuntungan hingga puluhan ribu.
”Cotohnya, di Lingkungan Sebok untuk tahu dan tempe pengrajin bisa mendapatkan keuntungan hingga ratusan ribu, artinya bisa menjadi lapangan yang bisa menyerap tenaga kerja bila dikembangkan,” tandasnya lagi.
Terlebih lagi tambahnya, penanganan paska panen ke arah holtikultura akan bisa terwujud.apalagi dalam bidang makanan tempe dan tahu ini, tidak ada satupun unsur yang terbuang, karena dari mulai ampas tahu dan tempe hingga airnya bisa berguna. (Kad)






