Operasi Pasar yang seharusnya menjadi bagian dari Keputusan Menteri (Kepmen) Perdagangan RI, untuk menurunkan harga beras yang melambung sangat tinggi, melebihi harga inpres yang berlaku. Namun kenyataannya OP ini menjadi program yang tidak bergaung, bahkan dipolitisir dan menjadi alat kampanye.
Namun oleh pihak terkait, beras tersebut tidak dijual langsung kepada masyarakat, bahkan dijual ke pengecer dengan mengambil untung, kemudian oleh pengecer tentu saja akan menaikkan harga juga, meski ada pengawasan tapi apakah bisa melakukan pengawasan setiap hari, jam, menit.tidakkan. lalu beras tersebut tidak diketahui kemana larinya, dan tiba-tiba….?
Sangat riskan, harga beras yang mahal ini justru dipergunakan untuk melancarkan jurus kampanye, di Labuhan Lalar, Lalar Liang, dan Sebubuk terjadi penjualan beras murah, harganya murah meriah, cukup menyediakan uang Rp 3.000 perkilogram. Dan ini diakui oleh beberapa masyarakat yang kecewa, karena ternyata beras ini milik salahsatu pasangan balon, dan jika bukan pendukung tidak akan diberikan, beras murah hanya kedok saja untuk merebut simpati warga, sampai segitunya ?.
Astagfirullah, warga yang tidak mendukung pasangan pemilik beras harus pulang dengan tangan hampa, padahal anak-anak di rumah sudah menunggu dalam keadaan lapar, tapi apa daya pilihan adalah harga diri, meski kebutuhan ekonomi juga penting artinya, terutama buat anak-anak yang lapar.
Namun, inilah wajah sesungguhnya politik, tidak ada perasaan dan perikemanusiaan sama sekali, dan malangnya lagi kenapa harus dilakukan di saat masyarakat kesulitan karena harga yang tinggi. Ini kemudian akan menjadi dendam kesumat, saling dengki, dan bibit permusuhan antara warga, antara sesama. (*)







“LAPAR TIDAK DAPAT BERAS OP”!!!!
SANGAT MENYAKITKAN & TRAGIS..E ALA POLITIK……. POLITIK – POLITIK INI POLITIK YANG TIDAK MEMBERIKAN PEMBELAJARAN YANG BAGUS……!!!!!!!!!!!!!!!