free image hosting
COBHotSpot
  • B E R A N D A
  • Tanpa Sosialisasi Ke Masyarakat, Beras OP Dijual Ke Pengecer

    Posted by Redaksi on February 8 2010 Add Comments

    OP Untuk Rakyat atau ………..?

    Operasi Pasar Murni (OPM) yang bertujuan untuk menstabilkan harga beras yang beredar di masyarakat tidak terjadi, bahkan hingga 2 minggu OP berjalan beras hanya turun beberapa persen saja. Sesuai dengan Keputusan Menteri (Kepmen) Perdagangan, jika harga melebihi 20 persen harga inpres maka harus dilakukan OP, namun kenyataannya oleh Disperindagkop dan UMKM KSB tanpa sosialisasi dijual ke lima pengecer yang ada di Taliwang.

    Bahkan kurangnya sosialisasi ke masyarakat gaung OP ini tidak terdengar sama sekali, bayangkan saja di tengah harga beras yang mahal yaitu 7 ribu-8 ribu rupiah perkilonya, hari pertama OP hanya terjual 600 kilo saja, dan sisanya 4,4 ton terpaksa harus dijual ke pengecer.

    Namun anehnya, menurut pengakuan Sekdis Disperindagkop dan UMKM, bahwa pengecer sudah membeli beras dari Dolog atas kesepakatan Disperindagkop UMKM KSB dan Dolog Sumbawa dengan memakai sistem bayar dimuka pula. Lalu dikemanakan Program PBRT…….?.

    Taliwang, KOBAR

    Meski sudah hampir 2 minggu ini terjadi Operasi Pasar, namun gaungnya tidak terdengar sama sekali, karena sosialisasi yang tidak dilakukan di tingkat masyarakat bawah.

    Dari pantauan KOBAR, OP yang dilaksanakan oleh Disperindagkop dan UMKM KSB sangat tidak efektif sama sekali, karena hanya dilakukan di satu titik yaitu di pasar Taliwang saja, meski pada hari ini akan dilakukan rolling penjualan ke Kecamatan lain lewat kantor-kantor kecamatan.

    Seorang warga kelurahan Dalam, Suryati, menyatakan bahwa pernah mendengar kalau ada OP lewat saudaranya, sebab dia datang ke pasar pagi hari, sementara OP jam 9 baru dimulai. Dan tidak pernah ada pengumuman di tingkat kelurahan atau tempat lainnya, sehingga sebagian besar warga tidak mengetahui ada OP.

    ”Saya tahu dari saudara, tapi beberapa hari kemudian sudah tidak ada, dan juga tidak pernah ada pengumuman atau pemberitahuan tentang akan adanya OP ini, sehingga hanya orang kebetulan pergi ke pasar saja yang tahu,” jelasnya.

    Ditanyakan tentang harga saat ini, dia menilai bahwa harga beras masih cukup tinggi, hanya memang sudah ada sedikit penurunan dari pada beberapa minggu lalu sebelum dilakukan OP, namun belum bisa menstabilkan dan menurunkan harga beras.

    ”Ada penurunan sedikit, tapi tidak seberapa hanya 2 ratus hingga seratus rupiah, dan di beberapa pengecer juga sama,” ulasnya.

    Sementara itu, Kadis Perindagkop dan UMKM, L. M. Azhar menyatakan, bahwa memang sisa beras yang laku 600 kilo, sehingga sisanya dijual ke pengecer namun tetap ada pengawasan dari dinas. Selain itu, karena menilai animo masyarakat kurang, ditambah dengan beredarnya Raskin, serta sudah ada kecamatan yang mulai panen.

    ”Sisanya dijual ke 5 pengecer yang ada di Taliwang dengan pengawasan dari tim dari dinas, sehingga bisa dipastikan pengecer tidak menaikkan harga,” terangnya.

    Bukankah sudah terjadi penyimpangan beras OP dijual ke pengecer?, dia menjelaskan bahwa memang benar beras OP harus langsung ke masyarakat, namun sudah ada kesepakatan dengan beberapa pengecer, Disperindagkop dan UMKM serta satgas Dolog untuk menjualnya ke pengecer, serta tetap dilakukan pengawasan.

    ”Ada kesepakan dengan Dolog, Disperindag dan pengecer, dan juga tetap adaa pengawasan yang rutin dilakukan oleh tim yang dibentuk dinas,” ujar Azhar.

    Selain itu, terkait beberapa pengecer yang mendrop beras untuk beberapa warga yang kemudian dijual murah hingga 3 ribu perkilonya, dia mengatakan bahwa itu adalah inisiatif dan langkah yang baik sekali, dan dia mengaku tidak tahu sama sekali dengan adanya penjualan beras dengan harga yang sedemikian murah.

    ”Saya tidak tahu sama sekali kalau ada yang jual beras begitu murah, saya kira itu bagus sekali karena bisa cepat menurunkan harga beras,” timpalnya.

    Dan bukankah harga yang terlalu murah juga merusak harga beras yang dijadikan komoditas oleh pengusaha penjual beras ?, Azhar menilai, itu memang bisa saja terjadi, harga beras yag dijual oleh pengusaha dan pedagang akan rusak, dan dia akan segera melakukan pengawasan terhadap harga beras tersebut.

    ”Nanti akan kami lakukan pengawasan dan pemantauaa, pihak mana yang menjual beras murah tersebut,” tandas Azhar lagi.

    Sekdis Perindagkop dan UMKM, Marwan, mengakui bahwa selain karena sudah adanya raskin yang beredar sehingga animo masyarakat kurang, juga menyatakan para pengecer sudah melakukan kesepakatan dengan pihak Dinas dan Dolog Sumbawa untuk dijual kepada mereka (pengecer-red) bahkan mereka bersedia membayar dimuka.

    ”Pengecer sudah membayar ke Dolog, dan kemudian dijual ke masyarakat dengan harga yang sesuai head, dan termasuk kesepakatan dengan pihak pengecer yang namanya terdaftar di dinas,” ulasnya.

    Namun yang terjadi, beras OP dijual ke beberapa pengecer dan kemudian beras OP tersebut seperti hilang, entah dibeli siapa, namun dengan adanya bagi-bagi beras murah di beberapa daerah menjadi tanda tanya media. (Kad)

    Leave a Reply