
Memang sudah seharusnya peran pemerintah harus selalu memberikan pelayanan yang cepat, tanggap dan empaty kepada warganya. Ada sebentuk empaty yang cukup unik karena belum banyak dilakukan oleh Pemda lainnya di Indonesia, yakni Pemberian Honor kepada Hukum Masjid, Pengurus TPQ dan Guru Ngaji Tradisional. Kebijakan ini sudah berjalan beberapa tahun sebelumnya di KSB dan ini dilakukan sebagai bentuk wujud terima kasih pemerintah terhadap pengabdian ketulusan dan keikhlasan dalam membelajarkan generasi KSB menuju generasi Qur’ani dan mewujudkan masyarakat fitrah. Honor tersebut bukanlah imbal jasa namun lebih sebagai sebuah kehormatan dan penghargaan murni Pemda sehingga haruslah dilihat sebagai sebuah motivasi agar pembangunan pembelajaran masyarakat ini menjadi sesuatu yang sustainable (berkelanjutan).
Alhamdulillah, setelah pada Tabliq Akbar tahun baru Hijriah di Darussalam KTC, empaty ini diberikan kepada Hukum Masjid, TPQ dan Guru Ngaji Tradisional juga hal yang sama dilakukan di Kecamatan Brang Ene dan dihadiri langsung oleh Bupati KSB bersama seluruh jajarannya yang menjadi rangkaian dari Program Safari Sholat Jum’at rutin Pemda KSB ke seluruh masjid di wilayah KSB. Jumat kemarin pun, walau tanpa kehadiran Kepala Daerah hal yang sama pun dilakukan di Masjid At-Taqwa Kecamatan Brang Rea dan disambut dengan antusias oleh Jamaahnya yang terlihat berjubel memakmurkan masjid mulia tersebut. Rombongan Pemda KSB yang dipimpin oleh Pak Sekda semakin menguatkan Silaturrahim pemda dengan masyarakat KSB sehingga dapat dirasakan bahwa jalinan ini harus semakin ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Alhamdulillah, empaty tersebut dilanjutkan dengan kunjungan rombongan menuju korban kebakaran yang menimpa salah seorang warga Desa Moteng. Rombongan kali ini kemudian dilengkapi dengan penyerahan bantuan lengkap dari dinas sosial dan bahkan BAZDA KSB secara spontan menyalurkan bantuannya untuk korban musibah kebakaran yang terjadi pada pagi sekitar jam sembilan Jumat tersebut. Walaupun tidak ada korban jiwa namun musibah ini telah menjadikan pelajaran akan pentingnya kewaspadaan dalam bermasyarakat sehingga apapun kondisi terburuk warga masyarakat akan tetap dapat teratasi dengan cepat dan tanggap.
Apa yang bisa kita petik dalam peristiwa dan pelaksanaan safari Jum’atan pemda diatas? Saya kemudian mencoba menerobos dan bertanya kepada beberapa warga tentang musibah kebakaran tersebut dan kesimpulan saya adalah bahwa mereka tetap menempatkan kesabaran mereka sebagai rasa syukur terhadap apapun musibah yang mereka dapatkan. Hal ini kemudian yang mendrive Pemda KSB untuk selalu empaty kepada hukum masjid, guru ngaji dan TPQ karena dengan upaya dan jasa merekalah juga KSB ini diselamatkan dari bala bencana oleh Allah SWT. ”Syukur Pak, Musibah ini terjadi di Hari Jumat, pas warga ada dirumah dan sedang juga Jumat Gotong Royong (baca: Jumat Bersih), sehingga musibah ini cepat sekali teratasi”. Begitu banyak hikmah dari setiap kejadian, semoga KSB ini pun tetap memberikan hikmah dan berkah bagi rakyatnya karena KSB ini terus berzikir dan terus bersyukur atas nikmat yang telah dirasakannya. Mari Belajar dari hikmah dan setelah itu lihatlah apa yang akan terjadi? (Salam An Najm)






