Kunjungan kerja Legislatif ke PT NNT ternyata berdampak ganda, pertama, isu miring yang beredar di media, bahwa dewan sengaja mendekatkan diri ke PT NNT memanfaatkan ketidak harmonisan pihak perusahaan tambang ini dengan pemerintah daerah disebabkan oleh imbas divestasi saham. Kedua, terlaksananya agenda kerja dewan yang tertunda.
Menanggapi ini, salah seorang pimpinan dewan, menyatakan, bahwa kegiatan ini murni sebuah agenda kerja yang sudah tertunda sekian lama, terkait persoalan tenaga kerja lokal yang belum proporsional, divestasi saham, program comdev tentang pemberdayaan masyarakat, serta masalah sub kont. Jadi dia mengharap agar masyarakat bisa menilai dengan positif thinking dan memberikan pandangan yang proporsional dalam hal ini, tidak usah terlalu didramatisir.
Hmm…, opini yang beredar di masyarakat, sah-sah saja, justru ini merupakan pengalaman berharga bagi dewan, supaya ke depannya, saat akan menyusun rencana kerja dan program, dapat melihat kondisi serta realitas di masyarakat. Karena tidak bisa dinafikan, dewan adalah perwakilan politik, jadi gerak-geriknya akan tetap dinilai dalam sudut pandang politis.
Wajar, jika masyarakat saat ini membuat penilaian yang sedikit miring, karena tujuan kunjungan kerja yang dipilih anggota dewan ini, sangat-sangat sensitif dan akan selalu melahirkan gesekan-gesekan khas, dan kental dengan ‘bau uang segar’, karena Newmont selama ini selalu diidentikkan dengan ‘gudangnya dana segar’.
Padahal, akhir-akhir ini DPRD sedang menjadi sorotan masyarakat. Diantaranya, peta koalisi partai politik pendukung bakal calon Bupati masih belum kelar-kelar juga, vokalitas para anggota dewan periode ini masih jadi tanda tanya, dan masyarakat harap harap cemas menanti realisasi janji yang diumbar pada saat kampanye.
Jangan sampai kembali ada nada sumbang tentang anggota dewan yang terhormat. Ingat anda adalah “Wakil Rakyat”.






