Siapkah KSB….?
“Visit Lombok-Sumbawa 2012” sebagai rangkaian program “Visit Indonesia Year’s 2009”, program unggulan ini telah resmi diluncurkan oleh Presiden SBY pada Juli 2009 lalu.
Dipilihnya Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa sebagai tujuan utama pariwisata di Indonesia memang beralasan. Potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah dan tradisi budaya yang unik Lombok-Sumbawa, pantas dan layak diexplorasi dan di jual di dunia internasional. Sehingga tidak tanggung – tanggung, pemerintah menargetkan 1 juta wisatawan yang akan mengunjungi pulau Lombok dan pulau Sumbawa.
Hmmm, Bisakah ini menjadi kenyataan?, Apapun, kita harus optimis, karena, kalau melihat potensi alam serta keragaman tradisi budaya yang dimiliki oleh pulau Lombok dan Pulau Sumbawa tidak diragukan lagi, sehingga hampir dipastikan target tersebut bisa tercapai.
Tapi, bagaimana dengan Kabupaten Sumbawa Barat, apakah program ini bisa laksanakan, tentu, kekayaan alam, berupa obyek wisata pantai, hutan, dan tambang, serta tradisi budaya unik yang dimiliki KSB layak dijual. Karena masyarakat KSB sangat heterogen, dan sangat majemuk, Sumbawa, Sasak, Bugis, Bima, Banjar, dan Bali.
Perpaduan berbagai suku ini, menjadi keniscayaan, jika masing-masing suku memiliki tradisi khas dari daerah asal, belum lagi tradisi yang lahir ketika terjadi penetrasi sosial dan percampuran budaya, semakin menambah kekayaan budaya dalam masyarakat Pariri Lema Bariri.
Namun, sukses dan gagalnya program ini kembali lagi ke tangan Pemerintah Daerah sebagai penentu. Sudahkah Pemda menyusun rencana matang untuk mengantisifasi hal ini…?. Sudah pas kah program pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya tradisional yang dilakukan selama ini..?, Bagaimana komunikasi dan pola kerjasama pemda dengan dunia swasta selama ini dan ke depan…?
Memang, KSB memliki potensi lebih dibanding daerah lain, sebut saja wisata tambang sebagai salah satunya, potensi ini memiliki pesona tersendiri di mata wisatawan, seharusnya ini bisa dikelola secara maksimal.
Wajar banyak kalangan meragukan hal ini, tapi bukan tanpa dasar. Sebab, jangankan mengelola yang besar, yang kecil saja belum mampu dikelola optimal, sungguh ironis.






