Kadis Dikpora: Himbau Tidak Terpengaruh
Polemik sekitar Ujian Nasional (UN) 2010, menjadi topik hangat di beberapa media, terutama setelah semakin berperannya media Elektronik. Keputusan Mahkamah Agung (MA) tentang dampak dan pengaruh UN yang dinilai menjadi beban siswa sekolah, sehingga UN harus ditiadakan. Namun di lain pihak pemerintah (Depdiknas-red) belum sepaham dengan hal itu.
Sementara di KSB, dalam hal ini Dikpora tetap menjalankan fungsinya sebagai pengurus pendidikan daerah, dengan bijak menganjurkan agar berbagai persiapan menghadapi UN yang dilaksanakan 2010, les-les, try out, penambahan jam belajar, dan sebagainya.
Dan lagi, dari informasi dari media, bahwa masyarakat mulai bingung dengan fenomena ini, di lain pihak MA benar dalam membidik realitas, dan di lain pihak pemerintah punya konsep-konsep jitu dalam menawarkan solusi kepada masyarakat.
Persoalannya sekarang, apakah ini hanya isuistik saja, atau ada tujuan lain di balik keputusan dan konsep itu….?
Taliwang, KOBAR
Ujian Nasional (UN) 2010 semakin dekat, berbagai persiapan telah dilakukan oleh sekolah-sekolah di KSB, terutama untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), namun polemik keputusan Mahkamah Agung (MA) tentang ditiadakannya UN juga semakin menghangat dibicarakan di media elektronik dan cetak.
Ditemui KOBAR di kantornya, Plt Kepala Dinas (Kadis) Dikpora KSB, Drs. Nurdin, mengatakan bahwa berbagai bentuk kegiatan persiapan untuk menghadapi UN ini sudah mulai dilaksanakan, dari Try Out tingkat SMA, les-les, penambahan jam pelajaran yang di UN kan.
“Persiapan-persiapan untuk menghadapi UN 2010 nanti sudah dilaksanakan, terutama untuk tingkat SMA, karena pelaksanaannya masih berlagsung jadi hasilnya belum bisa diketahui,” jelas Nurdin.
Adapun bentuknya, dia lanjutkan, adalah mencoba meningkatkan kualitas dan kuantitas, baik materi maupun faktor-faktor psikologis yang selama ini menjadi kendala, sehingga guru, siswa dan sekolah harus bisa bekerja sama. Dan yang penting lagi mengintensifkan kelompok guru-guru bidang studi, untuk mencari di mana kelemahan siswa dalam UN.
“Peningkatan kualitas dan kuantitas, dari segi materi maupun factor-faktor psikologi yang dihadapi siswa, sehingga dengan adanya macam-macam persiapan ini bisa diidentifikasi remedial siswa yang bermasalah,” ungkapnya lagi.
Menurutnya, berbagai persoalan sekitar UN ini menyangkut tanggung jawab semua pihak, sekolah, dinas, ketersediaan sarana prasarana dan penunjang proses belajar-mengajar (PBM) termasuk juga keluarga dan masyarakat sangat mendukung.
“Ini merupakan tanggung jawab semua pihak, dari sekolah, dinas, serta peran serta orang tua dan masyarakat, tentu ketersediaan sarana prasarana dan penunjang belajar lainnya sangat mendukung,” tambah pria berkaca mata ini.
Selain berbagai persiapan yang dilakukan, diharapnya, try out dan berbagai persiapan lainnya bisa menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi UN 2010 nanti, sehingga raport siswa secara umum dapat meningkat dan ada perubahan yang signifikan.
“Saya berharap hasil persiapan-persiapan yang dilakukan sekolah bisa menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan hasil UN siswa KSB secara signifikan,” terang Nurdin lagi.
Sementara itu, berbagai polemik masalah UN, yang ditenggarai oleh keputusan MA yang santer menjadi pemberitaan di media massa, Nurdin menghimbau agar sekolah dan siswa tidak terpengaruh oleh isu-isu yang belum pasti, karena dalam bentuk apapun ujian ini nanti diadakan, kualitasnya tetap sama dengan Ujian nasional yang lalu.
“Saya menghimbau agar sekolah-sekolah tidak berpengaruh, apalagi mempengaruhi siswa untuk menunggu final keputusan ini yang menyebabkan siswa resah, guru juga harus memberikan kepercayaan kepada siswa bahwa UN tetap dilaksanakan sehingga proses persiapan ini tetap berjalan,” himbaunya.
Sementara itu, Kabid Dikmenti Dikpora KSB, Sudirman, S. Pd, menyatakan bahwa jika dievaluasi dari kejadian UN tahun lalu, di mana nilai siswa KSB berada di peringkat 2 dari bawah dengan kabupaten lain di NTB, namun meskipun hasilnya demikian tapi pelaksanaannya paling murni, dan memang begitulah konsekwensi yang harus diterima.
“Memang peringkat nilai siswa KSB berada nomor 2 paling bawah dari kabupaten/kota lain di NTB, namun itulah hasil murni pelaksanaan UN tanpa rekayasa apa-apa,” kilah Sudirman.
Mengenai isu ditiadakannya UN ini, pada rapat koordinasi dengan seluruh kepala sekolah di kecamatan Brang Ene sudah dia jelaskan, bahwa apapun putusan akhir pemerintah agar sekolah jangan pernah lengah untuk tetap meneruskan segala persiapan nanti.
“Pada rapat dengan kepala Sekolah di Brang Ene, saya sudah menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah yang hadir agar jangan lengah, tetap mempersiapkan diri sehingga siswa bisa siap tempur kapanpun,” harapnya.
Ditanya tentang UN sebagai satu-satunya standar nilai, dia jelaskan bahwa kalau kita melihat memang UN selama ini dipandang sebagai satu-satunya parameter, tetapi kalau mau kita teliti sebenarnya proses belajar-mengajar (PBM) bisa menjadi ukuran, namun karena masyarakat sudah menilai bahwa UN satu-satunya, jadi merubah stigma itu yang susah.
“UN selama ini menjadi satu-satunya ukuran, tanpa melihat PBM selama 3 tahun siswa, sehingga ini yang menjadi dilema,” pungkasnya.
Dari pantauan KOBAR, polemik ini tidak terlalu berpengaruh dalam masyarakat, karena sebagian besar menilai bahwa ini adalah wilayah kebijakan, yang tidak perlu diperhatikan. (Kad)






