Harlah KSB ke-6 ini menjadi moment sekaligus potret yang tepat untuk menata dan mengatur langkah ke depan sesuai dengan tujuan dan visi yang kita inginkan bersama. Jangan sampai karena ketergesaan, sebuah konsep yang sudah matang, ditakutkan malah menjadi bumerang yang melukai diri sendiri. Oleh karena itu berbagai strategi yang diambil musti bahkan harus melibatkan semua aspek dan potensi yang ada dalam masyarakat, misalnya, para pakar, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan akademisi serta Pers.
Dalam seminar sehari “membangun peradaban fitrah” yang dilaksanakan di gedung Setda kemarin (19/11), seharusnya bisa menjadi cerminan, bahwa suatu urusan apabila diselesaikan secara bersama-sama, dengan mendudukkan para pakar dalam sudut pandang berbeda, menunjukkan adanya dinamika dalam memahami konsep yang sama, dan melahirkan sebuah kemapanan dan kedewasaan berpikir.
Kegiatan-kegiatan menyambut Harlah ke-6 bumi Pariri Lema Bariri, sungguh pemandangan yang sangat indah, nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, dan gotong royong, serta kesadaran tentang pentingnya sebuah proses latihan, dengan mengindahkan hasil instant, begitu tergambar nyata dalam realitas masyarakat.
Harlah ini bagi sebagian besar masyarakat merupakan wadah penyemangat, karena dihiasi dengan spirit-spirit kompetisi. Dan tentu saja sesi hiburan pada hari-H yang paling ditunggu-tunggu, tahun ini Pemda berhasil mendatangkan Raja Dangdut, H. Rhoma Irama dan Sonetanya. Dari pengamatan yang dilakukan KOBAR, Masyarakat KSB sendiri sangat antusias, bahkan dari luar KSB sudah menyiapkan bermacam kendaraan untuk menyambangi Taliwang, agar bisa menyaksikan tokoh idolanya, dengan Gitar Buntungnya.
Bagi siswa-siswa sekolah, dari dasar hingga tingkat atas, menjadi ajang latihan untuk unjuk prestasi, dalam kegiatan lomba-lomba yang diselenggarakan dalam menyambut Hari besar bagi Sumbawa Barat.
Semoga Harlah KSB ke-6 ini, buka saja menjadi sekedar sebuah seremonial belaka, tapi sanggup menumbuhkan spirit peradaban fitrah. (*)





