Antara Harapan, Pujian dan Keluhan
Semarak menyambut Harlah KSB begitu meriah, sepertinya seluruh masyarakat ikut tenggelam dalam eforia ini. Pesta olahraga, pawai budaya, lomba di sekolah-sekolah, hingga pasar rakyat, membuat masyarakat terlena sejenak dengan masalah di depannya. Enam tahun sudah umur Kabupaten Sumbawa Barat, dengan motto Pariri Lema Bariri-nya, dibutuhkan percepatan di berbagai aspek kehidupan, ini memang bisa dibuktikan lewat berbagai pembangunan fisik, kebijakan yang progresif. Namun yang jadi pertanyaan saat ini, sudahkah realitas ini dinikmati secara merata…..?
Taliwang, KOBAR
Berbagai penghargaan telah disematkan kepada Kabupaten Sumbawa Barat, tidak terhitung prestasi yang didapat baik di tingkat nasional maupun pada level regional, baik institusi pemerintah maupun secara individual seorang anggota masyarakat. Semua itu tentu tidak luput dari berbagai kebijakan, ide dan gagasan dari seorang Playmaker andal, sosok pemimpin yang bervisi jauh menembus ke arah kemajuan.
Sorotan nasional, sudah mengenal sosok DR. KH. Zulkifli Muhadli, SH, MM, seorang Bupati yang berasal dari kalangan agamis, tapi mampu membuat gebrakan politik yang indah nan cantik. Namun, bolehlah kacamata nasional memandangnya demikian, dan itu sah-sah saja, tetapi apakah seluruh masyarakat menikmati semua predikat itu.
Tidaklah salah apabila, saat di atas kita berani melakukan intropeksi diri kembali, banyak bercermin, justru sosok yang bijak akan mampu melihat berbagai permasalahan ketika orang memandang semuanya telah sempurna.
Seperti dikatakan oleh seorang tokoh masyarakat Tamempang, Sail Aqil, dia berharap semua yang telah didapat untuk terus dilanjutkan, pembangunan, dan sebagainya, tentu saja perhatian kepada masyarakat di kalangan bawah, seperti petani, nelayan, untuk dipikirkan berbagai permasalahan yang dihadapi.
“Harapan saya lewat moment Harlah KSB yang ke-6 ini, tentu banyak sekali harapan yang diinginkan masyarakat, akan tetapi yang didapat, ya, itulah yang harus terus dilanjutkan. Tetapi, yang paling utama saat ini, yaitu harus ditingkatkan perhatian kepada rakyat kalangan bawah, petani, nelayan untuk dipikirkan juga solusi masa depannya,” ungkapnya.
Dia sangat berharap agar pemerintah lebih memperhatikan masyarakat bawah, jangan hanya kebijakan-kebijakan yang membuat pemimpin itu populer saja yang dilanjut-kembangkan, tetapi juga kebijakan yang menyangkut kehidupan masyarakat marjinal, yang jauh dari kehidupan perkotaan.
“Jangan hanya pendidikan gratis dan kesehatan gratis saja yang dikembangkan, tetapi kebijakan yang menyangkut masyarakat kecil dan marjinal yang jauh dari perkotaan juga butuh uluran pemikiran dari pemimpin yang bergelar Doktor,” ujarnya lagi.
Lain lagi dengan Pak Muhammad, seorang pengusaha wiraswasta, dia menilai moment Hari ulang tahun ke-6 ini patut menjadi catatan, karena berbagai permasalahan masih selalu menjangkiti masyarakat, terutama masyarakat kecil. Dia menyatakan bahwa harus ada perhatian ekstra.
Menurut dia, ada 2 keluhan yang membuatnya sedikit apatis dengan berbagai kebijakan pemerintah daerah. Pertama, kenapa yang tamatan SMA bisa bekerja di instansi pemerintah, sementara anak saya yang juga tamat SMA tidak. Kedua, kebijakan kesehatan gratis, setiap berobat diberikan obat yang kurang berkualitas, akhirnya lari ke dokter praktek.
“Dengan Harlah KSB ke-6 ini, saya mengeluhkan 2 hal, yaitu banyak tamatan SMA yang kerja di kantor, tapi saat saya menyodorkan anak saya, saya ditolak dengan berbagai alasan, padahal kalau saya lihat, ternyata adanya koneksi di dalam masih berlaku. Juga mengenai kesehatan, setiap sakit kita berobat ke Puskesmas, tapi sakitnya tidak kunjung sembuh, setelah berobat ke dokter praktek kok cepat sembuh, kalau dilihat obatnya kurang bermutu, akhirnya, mesti harus membayar mahal tidak apa-apa asal cepat sembuh,” tuturnya.
Dikatakannya lagi, seharusnya ada kebijakan yang mengatur masalah perberdayaan putra daerah, karena melihat kenyataan yang ada, orang-orang luar daerah yang dipekerjakan, sementara putra daerah harus menganggur.
“Yang harus diperhatikan juga, harusnya ada aturan jelas tentang pemberdayaan putra daerah, karena saya lihat di kantor-kantor Pemda, banyak memakai bahasa sasak dan bahasa Jawa, sementara saya yakin banyak sarjana putra daerah yang baru lulus tidak mendapatkan tempat, kemudian ya jadi pengangguran kan sayang,” urainya lagi.
Pembangunan jalan-jalan, gedung, atau memilih siapa yang memimpin, menurutnya dia tidak ambil pusing, karena menurutnya, seharusnya pemerintah lebih melihat lagi kepada kenyataan di lapangan.
“Pembangunan gedung Pemda, tapi Kafe-Kafe minuman keras juga ikut membangun,” imbuhnya.
Sementara seorang Penjual kaki lima, Hafsah, melalui Harlah KSB ini dia bersyukur dengan anugerah tuhan yang telah memberikan kehidupan yang nyaman dan kondusif bagi masyarakat KSB.
“Ya, saya pedagang senang-senang saja, karena dengan adanya pasar rakyat, dan keramaian, apalagi besok Bang Haji Rhoma akan datang, saya senang dengan Pak Kyai,” dukungnya.
Dari hasil pantauan KOBAR, memang secara umum masyarakat yang diminta konfirmasinya, berkaitan dengan Harlah KSB ke-6 ini rata-rata, menyatakan setuju dengan berbagai pembangunan dan kebijakan yang digagas oleh Pemda, dan mereka ingin agar perbaikan itu terus dilanjutkan. Dan harapan mereka, secara dominan berharap adanya penataan dan pemerataan lapangan kerja, dan ingin agar KSB menjadi lebih baik dan lebih mensejahterakan semua kalangan/lapisan masyarakat, supaya tidak terjadi kecemburuan sosial, yang akan menimbulkan perpecahan di antara masyarakat itu sendiri. (Kad)





