Minta Pos Polisi, Bidan Layani Pasien Dengan Tikar
KOBAR belum lama ini bersama sejumlah media terjun ke Desa tersulit dijangkau, yakni, Talonang Baru. Mungkin predikat sehat tidak berlaku di daerah yang masih terisolir ini. Peralatan minim, tak ada Dokter. Satu Bidan dipaksa melayani 402 KK tanpa listrik. Pemenuhan standar pelayanan kesehatan yang baik ibarat jauh dari mimpi. Tidak hanya pelayanan kesehatan, warga Talonang juga hidup dicekam jauh dari rasa aman. Rupanya, aparat Polisi sulit dicari di sana. Kasus pencurian berulang kali terjadi. Berikut ulasannya…
Taliwang, KOBAR
Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) baru-baru ini dinobatkan sebagai Kabupaten Sehat Nasional. Bupati Sumbawa Barat, DR. KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM menerima penghargaan Swasti Saba Wiwerda, dari Presiden RI lantaran prestasinya menjadikan KSB sebagai Kabupaten yang memenuhi sedikitnya 4 kriteria bidang Kesehatan. Sayang, kriteria predikat Kabupaten Sehat mungkin tidak berlaku di satu wilayah KSB yang kini masih berstatus kawasan terisolir, Desa Talonang Baru Kecamatan Sekongkang. Kunjungan sehari para wartawan ke kawasan transmigrasi yang jaraknya kurang lebih 100 kilometer dari Kecamatan Maluk ini ternyata membawa harapan tersendiri bagi warga di sana. Meski sangat dekat dengan operasi pertambangan PT. NNT, kondisi Talonang masih amat memperihatinkan. Warga Talonang ternyata sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Di sana hanya terdapat satu Bidan Desa. Bidan ini terpaksa alias dipaksa karena kondisi, untuk melayani sedikitnya 402 Kepala Keluarga (KK). Sudah 8 tahun kawasan transmigrasi itu berdiri, namun Polindes yang dibangun Pemerintah kosong melompong tanpa alat dan inventaris satupun. Kondisi ini diperparah dengan layanan kesehatan malam hari tanpa listrik.
“Ya, mas. Beginilah kondisi kami. Saya pernah menjahit pasien luka dengan alat seadanya tanpa penerangan. Jika ada pasien lain, saya melayani mereka langsung di lantai dengan beralaskan tikar, karena tempat tidur, almari dan perlatan lain tidak ada. Obat-obatan saya gelar di lantai seperti yang mas lihat. Tapi, saya bangga ditugaskan di sini. Meski serba kekurangan saya dengan senang hati melayani masyarakat,” ucap, Ani Pujiati (23), satu-satunya Bidan Desa yang bertugas di Talonang.
Meski tanpa listrik, Ani, mengaku melayani pasien dengan menggunakan lampu minyak tanah dan lilin. Koran ini membuktikan itu, Ani melayani pasien di sebuah ruangan prakteknya hanya dibekali satu meja dan satu kursi, sementara obat-obatan terlihat berserakan di lantai. Ani mengakui, memang sulit melayani pasien yang jumlahnya begitu banyak. Apalagi, kawasan di mana ia bertugas ini sulit ditempuh dengan kendaraan biasa serta amat jauh. Ia berdoa, mudah-mudahan tidak ada pasien yang sulit ia tangani sehingga harus dirujuk. Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika ada warga menderita sakit keras atau luka berat yang tak bisa ditangani Polindes, dan butuh pertolongan segera. Apa yang bisa dilakukan Bidan dan masyarakat di sana. “Itu yang saya takutkan,” cetusnya.
Ani juga menunjukkan, salah satu sudut ruangan Polindes yang memiliki jendela tanpa terali. Belakangan, ia dan banyak warga dicekam rasa takut lantaran kasus pencurian berulang kali terjadi. Ketika malam tiba, ia mengaku tak berani tidur tanpa ditemani sejumlah ibu rumah tangga tetangganya.
Ani sendiri adalah Bidan Desa yang baru 4 bulan ditempatkan di Talonang. Selama ia bertugas, belum sekalipun tim Juru Pemantau Kesehatan Masyarakat (Jumantara) atau tim Brigader Mobil Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Brimob Yankesmas) datang ke Talonang. “Kalau Brimob Yankesmas dan Jumantara selama saya bertugas belum pernah turun, termasuk Dokter. Selama saya di sini penyakit yang paling sering saya tangani ialah gejala Malaria,” tandasnya.
Untuk diketahui, data Dinas Kesehatan (Dikes) KSB menyebutkan, daerah Sekongkang, Jereweh dan Brang Rea adalah kawasan endemis penyakit Malaria. Tiga kawasan ini bahkan pernah ditetapkan dalam status berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk Malaria.
Saefullah (30), Kelompok Pendamping Masyarakat (KPM) Desa Talonang Baru menyampaikan kondisi yang sama. Sarjana pendamping masyarakat utusan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) setempat ini menyampaikan, warga Talonang umumnya telah menyampaikan keluhan ini kepada Pemerintah termasuk melalui musyawarah RT.
Akan tetapi, entah kendala apa, sampai saat ini kondisi ini belum bisa ditangani. Saefullah menyadari, ia dan warga Trans Talonang ini masih berstatus dibawah pengawasan Departemen Transmigrasi RI dan belum diserahkan ke Pemerintah Daerah. Ia sendiri tak habis pikir, selama 8 tahun hidup di tengah fasilitas yang dibangun setengah-setengah oleh Pemerintah, baik Daerah dan Pusat. Contoh Polindes tadi, dibangun tapi pelayanan tak memadai. Belum lagi, warga hidup di tengah tidak adanya rasa aman.
“Bayangkan, kasus pencurian di sini berulang kali terjadi, dari pencurian ternak, bahkan rumah warga dan sekolah. Kami sudah bersurat ke Mapolres meminta ditempatkan Polisi di Talonang atau Pos Pembantu saja, tapi sampai hari ini belum digubris. Kemana kami harus mengadu. Kami tidak malas, warga di Talonang ini rajin bekerja. Tapi bagaimana bekerja di tengah kondisi yang tidak menunjang seperti sekarang ini,” sesalnya.
KSB sendiri dinobatkan sebagai Kabupaten dengan predikat Sehat Tingkat Nasional. Ada 4 kriteria yang harus dipenuhi untuk menerima penghargaan tertinggi bidang Kesehatan dari Presiden tersebut. Misalnya, daerah kawasan tambang sehat, kawasan pariwisata sehat, kehidupan masyarakat sehat yang mandiri serta yang terakhir, kehidupan masyarakat sosial yang sehat (pelayanan memadai dan mudah dijangkau). Pertanyaannya kini, sudahkah 4 kriteria itu terpenuhi di seluruh bagian administrasi pemerintahan KSB? (Kar)







Kesehatan itu penting dan mahal harganya.mudah-mudahan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat beserta anggota dewan “yang maunya dihormati” yang sedang mengemban jabatannya saat ini bisa ikut membaca dan merespon kabar tidak baik ini. Selain peralatan medis yang menunjang dan memadai, faktor keselamatan dan keamanan dari petugas medis baik bidan, ataupun dokter nantinya yang ditugaskan harus ikut diperhatikan!!
Jangan sampai petugas medis terus menerus merasa khawatir dan merasa dianaktirikan sehingga pelayanan kesehatan menjadi terhambat.
kaitannya dengan kriteria 4 tatanan sehat tersebut adalah hasil pantauan lapangan dari tim yang pada akhirnya menjadilkan 4 daerah tersebut layak untuk dijadikan sebagai 4 bagian dari tatanan sehat seperti yang dikriteriakan dalam swastisaba wiwerda. data tersebut kemudian di pelajarai dan terjemahkan oleh tim dari pusat dan dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia sehingga akhirnya KSB berhak atas penghargaan tersebut. jika dikaitkan dengan kondisi talonang sekarang, tentu berbicara dalam konteks lain, mungkin perlu ada regulasi yang lebih spesifik untuk memberikan porsi perhatian penuh terhadap warga trans yang ada di Talonang, seperti yang diceritakan oleh Kobar, Jalan, sarana prasarana, dll. Dan itu memang menjadi bagian dari tanggungjawab Stakeholders terkait, Pemda, Bimob Yankesmas, Jumantara, masyarakat dan Pers.
sebuah keprihatinan melihat ini…
sebuah tatanan yng dimaksudkan utnuk kemaslahatan ummat…
kita perlu melihat ke dalam,,sejauh mana top leader daerah ini peduli dengan rakyatnya…
sejauh mana PBRT dijalankan, jgn pernah menunjuk siapa yg salah..temukan sumber kesalahan dan obati,,jika terlalu busuk amputasi saja…semoga KSB kedepan lebih baik…